Mengenal Kuliner Khas Suwawa: Cerita di Balik Ayam Bakar Woku yang Menggugah Selera

Pagi itu, aroma harum rempah menyergap hidung saya begitu melintasi pasar tradisional Suwawa. Seorang ibu penjual ayam bakar dengan sabar membalik-balik potongan ayam di atas bara, sambil sesekali menyapukan kuah woku yang pekat. "Inilah ikon kuliner kami," katanya sambil tersenyum. "Ayam bakar woku Suwawa, warisan leluhur yang bertahan sejak dulu."
Asal-Usul Ayam Bakar Woku
Woku, dalam bahasa Gorontalo, merujuk pada bumbu kuning kental berbasis kunyit, jahe, dan lengkuas yang menjadi jiwa hidangan ini. Konon, resep ini dibawa oleh para pelaut Minahasa yang singgah di Teluk Tomini berabad silam, lalu diadaptasi dengan cita rasa lokal. Yang membedakan woku Suwawa adalah penggunaan bunga kamboja (bukan yang beracun, melainkan varietas lokal bernama bunga gandasuli) sebagai penguat aroma.
Saya belajar dari Pak Rudi, seorang tetua adat, bahwa proses membakar ayam di sini tak boleh terburu-buru. "Ayam harus dimandikan bumbu semalaman, lalu dibakar dengan kayu cempaka agar ada aroma kayu yang meresap," ujarnya. Tradisi ini masih dipertahankan di kedai-kedai tua seperti Warung Makan Delima yang berdiri sejak 1980-an.
Resep Turun-Temurun dengan Sentuhan Modern

Bermodal catatan resep dari nenek tetangga, saya mencoba membuat versi rumahan. Rahasianya terletak pada tiga hal: pertama, ayam kampung muda yang dipotong kecil agar bumbu menyerap sempurna. Kedua, campuran rempah segar seperti serai, daun jeruk, dan kemangi lokal yang ditumbuk kasar, bukan dihaluskan.
Terakhir, penggunaan sedikit cuka aren sebagai pengempuk alami. Teknik ini justru saya dapatkan dari artikel Detik Food tentang inovasi bumbu tradisional Indonesia. Setelah diungkep, ayam dibakar di atas arang sambil terus diolesi sisa bumbu. Hasilnya? Kulit yang renyah gurih dengan daging tetap lembut dan sarat rempah. Biasanya disajikan dengan nasi hangat dan sambal dabu-dabu yang segar.
Lebih dari Sekadar Makanan
Bagi warga Suwawa, ayam bakar woku sering muncul dalam acara adat seperti pernikahan atau syukuran. "Setiap keluarga punya resep rahasia," kata Ibu Siti, pemilik warung langganan saya. Ada yang menambahkan kemangi hutan, ada pula yang menggunakan santan kental untuk versi lebih guriih.
Sekarang, setiap kali mencium bau kunyit dibakar, ingatan saya langsung melayang ke pasar pagi di Suwawa. Di balik setiap gigitan, tersimpan cerita tentang tangan-tangan yang dengan setia meracik rempah, menjaga warisan yang tak ternilai. Mungkin itu yang membuat kuliner tak sekadar soal rasa, tapi juga tentang jejak yang ditinggalkan.