Kuliner KulinerCerita, tips, dan rekomendasi yang dipersiapkan dengan rapi.
food

Mengenal Kuliner Khas Suwawa yang Menggugah Selera

Jelajahi kekayaan kuliner khas Suwawa, dari hidangan tradisional hingga jajanan kaki lima yang memikat lidah.

3 Jul 2026 · 3 menit baca · oleh Adi Nugroho Wardhana
Mengenal Kuliner Khas Suwawa yang Menggugah Selera

Pagi itu, aroma sate dan kuah kental yang gurih menyambutku saat melintasi Pasar Tradisional Suwawa. Sejak pindah ke daerah ini tiga tahun lalu, petualangan kulinerku tidak pernah berhenti menghadirkan kejutan. Setiap sudut kota menyimpan cerita rasa yang berbeda, dari warung sederhana hingga kedai keluarga yang sudah berdiri puluhan tahun.

Sate Suwawa, Legenda Rasa yang Tak Terlupakan

Berbicara tentang kuliner Suwawa rasanya belum lengkap tanpa mencicipi sate khasnya. Tidak seperti sate pada umumnya, Sate Suwawa menggunakan daging sapi muda yang dimarinasi dengan rempah-rempah lokal. Keistimewaannya terletak pada bumbu kacang yang kental, dengan sentuhan rasa asam dari buah lime khas daerah ini.

Aku masih ingat saat pertama kali mencicipinya di Warung Sate Pak Haji, Jalan Merdeka. “Bumbunya turun-temurun dari nenek moyang kami,” kata Pak Haji sambil membalik tusukan sate di atas bara arang. Menurut Wikipedia Indonesia, variasi sate di Indonesia sangat beragam. Sate Suwawa punya karakter kuat berkat penggunaan rempah-rempah khas Sulawesi Utara Soal ini, saya pernah singgung di kuliner.

Sate Suwawa dengan bumbu kacang khas

Jajanan Pasar yang Menggoda

Suwawa tidak hanya menawarkan hidangan utama. Jajanan tradisionalnya juga layak dicoba. Salah satu favoritku adalah bubur tinutuan versi Suwawa, yang berisi banyak sayuran dan ikan cakalang. Dibandingkan tinutuan Manado, versi ini terasa lebih kental serta memakai ubi kuning dalam jumlah lebih banyak.

Setiap akhir pekan, aku menyempatkan diri datang ke Pasar Pagi Suwawa untuk menikmati bubur tersebut. Ibu Lina, salah satu pedagangnya, sudah berjualan sejak tahun 90-an. “Resep ini dari almarhum suami saya,” tuturnya sambil menambahkan irisan daun kemangi segar di atas bubur.

Buburnya paling nikmat disantap saat masih hangat. Tekstur lembut, rasa gurih ikan, dan aroma kemangi membuat semangkuk kecil terasa cepat habis. Kadang aku datang terlalu pagi, tapi menunggu sebntar selalu terbayar dengan porsi yang baru matang.

Warung Kopi dengan Cerita Rasa

Budaya ngopi di Suwawa juga terasa kuat. Warung Kopi Tenda Biru di pusat kota menjadi tempat warga berbincang sambil menyeruput kopi robusta lokal. Mereka menyajikan kopi bersama pisang goreng berbalut gula merah, perpaduan sederhana yang pas untuk mengawali pagi Konteks tambahan ada di kuliner hits.

Aku sering menghabiskan waktu di sana sambil menulis. Pak Rudi, pemilik warung, kerap bercerita tentang asal biji kopi yang diperolehnya dari petani di pegunungan sekitar Suwawa. “Tanaman kopi ini tumbuh di antara cengkeh dan pala,” katanya suatu pagi, lalu menuangkan kopi hitam pekat ke gelas kecil.

Rasa kopinya cukup kuat, tetapi tidak menutupi aroma rempah dari lingkungan sekitar. Pisang gorengnya pun renyah di luar dan lembut di dalam. Menurutku, pasangan ini sederhana bangeet, tetapi justru itulah yang membuatnya sulit dilupakan.

Petualangan kuliner di Suwawa terus memberiku pelajaran baru. Di balik setiap hidangan, ada cerita tentang orang-orang yang menjaga tradisi dengan penuh kesabaran. Masih banyak rahasia rasa yang belum sempat kujelaajahi di sudut-sudut kota ini.

Minggu depan, aku ingin mencari tahu tentang kue tradisional yang hanya dibuat saat perayaan tertentu di desa-desa sekitar Suwawa. Bisa jadi, dari sana ada cerita baru yang belum pernah kudengar.

Baca juga: Kuliner murah

Selengkapnya di: sumber resmi

Tag: #kuliner tradisional #makanan khas #suwawa